Perjalan Penuh Pesona

Kota Palembang lahir pada tanggal 16 Juni 682, hal ini berdasarkan prasasti Kedudukan Bukit yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Dalam prasasti tersebut penguasa Sriwijaya menamakan Kota Palembang sebagai Wanua. Menurut topografinya, kota palembang saat itu dikelilingi oleh air atau rawa. Rawa tersebut dipergunakan sebagai air minum. Sampai saat ini sekitar 52.24% masih berupa rawa. Berkenaan dengan hal itu, maka orang-orang jaman dahulu menamakan kota ini sebagai Palembang. Dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; dan Lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah yang membengkak karena lama terendam air. jadi dapat disimpulkan bahwa Palembang dapat diartikan genangan air. Dalam kisah perjalan ini saya tidak akan menceritakan panjang lebar tentang sejarah kota Palembang dari semenjak jaman sriwijaya, penjajahan belanda, Jepang dan saat ini. Tetapi saya mencoba menceritakan kisah perjalan menelusuri sungan musi dari Lrg Waspada 13 Ulu Palembang, Pulau Kemarau, dan Benteng Kuto Besak.

Awal perjalan kami dimulai dari Lrg Waspada 13 Ulu Palembang. Perjalan kami terdiri dari 12 orang, yang terdiri dari Saya, Anak dan istri saya (Denilah dan Alif), Kak Ijal berserta Istri dan anak (Kak Ade dan Agik), Anggie dan anak, Susan dan anak, Balquis, Tasya, Adit, Mamat, Ipik dan anak. Perjalan kali ini kami menggunakan perahu Ketek. Transportasi air yang sangat sederhana dan dipergunakan oleh penduduk setempat untuk menyebrang dari kawasan Palembang Ulu ke Palembang Ilir. Kita perlu waspada disaat naik diatas perahu ketek selain terombang-ambing oleh ombak juga tidak ada baju pelampung. Maka harus waspada bagi siapa saja pengguna perahu ini jika kita tidak bisa berenang.

Pasar 16 Ilir Palembang

Sungai musi merupakan urat nadi perekonomian bagi masyarakat yang berada disepanjang sungai musi. Sungai musi merupakan muara dari 2 sungai yaitu sungai komering dan sungai ogan. Keberadaan sungai musi sangat berarti bagi masyarakat palembang, dimana sungai musi dipergunakan sebagai sumber air minum, mandi, dan mencuci. Selain itu sungai musi juga sebagai transfortasi perekonomian bagi masyarakat bagian Hulu dan Hilir. Masyarakat dibagian Hulu dan Hilir menjual hasil baik itu pertanian, industri rumah tangga, dan industri lainnya ke Pasar 16 ilir dan Jakabaring. Penjual membawa dagangannya dengan menggunakan perahu.

Kapal Angkutan Hasil Bumi

Perjalanan kami dari Lrg Waspada 13 Ulu menuju Pulau Kemarao ditempuh 30 menit. Disepanjang aliran sungai musi nampak geliat perekonomian masyarakat pinggiran sungai musi seperti Industri Pembuatan Perahu, penambang pasir, restoran terapung, dan penjual bensin eceran.


"US" Usaha Setia LIMIN

Salah satu industri perahu yang kami jumpai adalah Usaha Setia Limin. Mungkin dalam benak kami yang memiliki usaha ini adalah Limin (ha ha ha ha…Kidding Man..!!). Dan saat kami melewati usahanya ternyata sudah ada 4 perahu yang sudah siap untuk dijual. Dan 1 perahu masih dalam tahap pengerjaan. Siapa tau ada pembaca yang berminat untuk membuat Perahu Pesiar Hubungi saja Usaha Setia LIMIN, alamat Pinggir Sungai Musi.

Setelah terpesona melihat usaha Pak Limin, perjalan kami lanjutkan, tetapi sebelum itu perahu ketek yang kami tumpangi mampir sejenak untuk mengisi bahan bakar di Kios Agus. Saya tidak tahu bahan bakar apa yang digunakan untuk perahu ketek.

Kios Agus

Tapi ya sudahlah tidak perlu dipikirkan, dalam benak saya yang penting bisa lancar menikmati perjalanan. Ternyata perjalanan kami kalah cepat dengan perahu speed boat. Mungkin sama cepat dengan Formula 1 atau Moto GP. SpeedBoat dipergunakan untuk transportasi jarak jauh. Berdasarkan pengalaman saya kalau naik speedboat jangan pilih duduk didepan karena hentakan atau hempasan perahu ini sangat membahayakan disaat perahu menghentak ombak. Bagian pinggang anda bisa sakit.

Speedboat

Kalau saya sarankan lebih enak duduk dibagian belakang lebih nyaman dan hentakan perahunya tidak begitu keras. Tapi bagi yang senang tantangan anda dapat gunakan perahu jenis ini, apalagi anda yang mengendalikan perahunya.

Rumah Panggung

Kenikamatan perjalan pun bertambah karena diatas perahu ketek kami tertawa, sambil bekelakar betok (istilah wong kito becerito lucu). Kalau dalam istilahnya Kalau dak bekelakar betok, ibarat ngopi tidak ada rokoknya. Ok..lah..yang bekelakar silahkan teruskan sajalah yang penting semuanya Happy yang tiada akhir. Disepanjang tepian sungai musi banyak kami jumpai rumah-rumah panggung yang tidak tertata rapi, tetapi sangat unik (menurut benak saya), Keunikannya adalah mereka mampu mendesain rumah dengan tiang-tiang penyangga, saya yakin mereka membangunnya hanya berdasarkan pengalaman tidak berdasarkan perhitungan, tetapi rumah-rumah tersebut bertahan walaupun ada ombak besar. Sepanjang tepian sungai musi banyak dijumpai rumah panggung yang terbilang cukup tua. Dan saya yakin mereka mau hidup lebih layak dan aman, tapi perekonomian mereka tidak memungkinkan untuk membeli sebuah rumah didaratan. Untuk makan pun mereka harus bekerja keras mencari uang, dan tidak ada sisa uang untuk ditabungkan. Inilah kerasnya hidup dinegeri yang kaya raya bahan Alam, tambang, dll.

Perjalanan menuju pulau Kemaro disebelah sisi kiri tepian musi, nampak pabrik pupuk berdiri gagah dan bekerja tak henti-henti untuk menyuburkan tanah negeri. Menurut sejarahnya pabrik PUSRI berdiri pada tanggal 24 Desember 1959, dan saat ini masih memproduksi pupuk urea.

PT. Pupuk Sriwijaya

Kira-kira 500 meter dari pabrik tersebut dari jauh nampak sebuah pulau dan berdiri kokoh sebuah meneara yang mirip pagoda. Dipulau tersebut kami tambatkan sauh disebuah darmaga kecil. Tidak begitu jauh dari dermaga tersebut terdapat pintu masuk menuju Pagoda tersebut. Jangan khawatir dengan tiket masuk karena dijamin gratis. Menurut masyarakat palembang, dinamakan pulau kemaro karena pulau ini tidak pernah digenangi air. Walaupun volume air di sungai Musi meningkat, Pulau Kemaro tetap saja kering. Kerena keunikannya inilah, masyarakat sekitarnya menjulukinya sebagai pulau kemaro. Didalam pulau ini terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai makam dari Putri Sriwijaya yaitu Siti Fatimah.

Pagoda di Pulau Kemaro

Tempat ini menjadi special bagi masyarakat Tionghoa karena cerita yang melatarbelakangi pembentukan delta itu sendiri. Makanya ketike hari raya Imlek banyak warga Tionghoa yang datang kesini untuk sembahyang atau mengenang kejadian tersebut atau sekedar wisata.

Perjalanan pun kami akhiri setelah merasa lelah dan kembali berlayar menusuri sungai musi menuju Lrg. Waspada dengan hati yang senang. Tetapi seepanjang perjalanan kami hanya membisu terhanyut akan lambayan ombak yang mengentakkan perahu ketek kami. Inilah sebuah perjalan keluarga yang menyenangkan.

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s