Hampir 22 tahun hidup merantau di Kota Palembang, saya belum menemukan asal mula bahasa palembang. Dan setelah menikah dengan orang asli palembang (13 Ulu Palembang), lambat laun baru menemukan istilah-istilah atau kosa kota bahasa palembang. Sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa palembang yang sering kita dengar atau bicara setiap hari sebenarnya merupakan bahasa melayu dan kosa katanya pun sudah banyak bercampur dengan bahasa dibeberapa daerah sekitar Palembang. Sedangkan bahasa asli yang biasa digunakan oleh orang tua, dan boleh dibilang jaman kakek dan nenek, sudah jarang sekali didengar. Bahasa Asli Palembang pada zaman dahulu dipergunakan hanya dilingkungan kerajaan. Sering saya mendengar percakapan mertua saya, (Yai, mangcek, bik cek dan orang tua disekitar rumah mertua saya), dan melihat beberapa budaya yang tersaji didalam acara pernikahan, hajatan, dan makanan tradisional, ternyata bahasa dan budaya Palembang sedikit banyak terpengaruh oleh budaya Jawa, melayu, Arab, dan china.

Dalam berbahasa ternyata, bahasa Palembang terdiri dari dua macam, pertama, bahasa sehari-hari yang digunakan hampir setiap orang dikota Palembang atau sebut saja Bahasa Pasaran. Kedua Bahasa Halus atau sering disebut Bebaso. Bebaso dapat diartikan berbahasa sopan dan halus. Dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Bebaso Bahasa Palembang berasal dari bahasa Melayu Tua yang berbaur dengan bahasa Jawa dan diucapkan menurut logat/dialek Wong Palembang.

Bahasa daerah Palembang (pasaran) boleh dikatakan bahasa yang mudah, dibanding dengan bahasa-bahasa daerah lainnya. Untuk bahasa sehari-hari (pasaran), hanya gayanya saja yang agak berbeda dengan bahasa Indonesia, dan beberapa kata atau istilah saja berlainan, kebanyakan huruf A diujung diganti dengan huruf O. Seperti “apa” menjadi “apo”, “nama” menjadi “namo” danseterusnya, karena itu orang-orang datangan di Kota Palembang ini mudah sekali mempelajari dan memakai bahasa sehari-hari sebagai bahasa penghubung/komunikasi bagi seluruh daerah di Sumbagsel.

Namun walaupun demikian bahasa daerah sehari-hari itu ada gaya yang khas yang terkadang kentara sekali bagi orang baru memakainya terdapat kejanggalan. Sedangkan Bebaso adalah agak lebih sulit dan berbea sekali istilahnya dengan bahasa sehari-hari (Kromop Inggil). Sekarang ini sudah tidak banyak lagi Wong Pelembang bebaso, karena itu sudah jarang terdengar. Anak-anak muda boleh dikatakan banyak yang tidak dapat, begitu juga orang-orang dewasa.

Sehingga seolah-olah sekarang ini bebaso itu hampir hilang. Oleh sebab itu bebaso ini harus dibiasakan dalam pergaulan sehari-hari kepada siapapun sebab didalamnya terdapat norma, adab, dan sopan santun, sehingga bila dibiasakan akan mendatangkan kebaikan dan besar kemungkinana terhindar dari salah paham, tersinggung, cekcok, dan sebagainya. Bebaso juga enak didengar dan dipandang mata, karena penyampaiannya secara sopan dan halus, nada suaranya tidak tinggi, lembut, serta dengan sikap merendah. Contoh kedua bahasa Palembang Pasaran (P) dan Bebaso (B) :

P : Mang Cek, aku ni nak betanyo, dimanolah rumah Cek Awang?

B : Mang Cek, kulo niki ayun betaken, pundila rompol Cek Awanh?

(Paman, saya mau bertanya, dimanakah rumah Pak Awang?)

P : O, idak jao, parak rumah aku, itulah rumah Cek Awang.

B : O, nano tebe, pangge rompok kulo,nikula rompok Cek Awang.

(O, tadak jauh, dekat rumah saya, disitulah rumah Pak Awang)

Dan ada sebagian kosa kata yang digali dibeberap sumber:

Beberapa contoh penggunaan bahasa asli Palembang , aku cuplikkan sebagai berikut :
1. Leser Beboso Plembang = Benar Berbahasa Palembang
2. Angsal Nano Kulo Betaken ? = Boleh Tidak Saya Bertanya ?
3. Angsal Saos = Boleh Saja
4. Nikoh Ayun Ke Pundi ? = Kamu Mau Kemana ?
5. Sampun Nedoh = sudah Makan
6. Wenten Napi ? = Ada Apa ?
7. Tingali = Lihat/Lihatlah
8. Nano Wenten = Tidak Ada
9. Tumbas = Untuk
10. Bedamel = Bekerja
11. Nano Bedamel = Tidak Bekerja
12. Sampun Lambat = Sudah Lama
13. Saek = Baik
14. Sampun Cindo = Sudah Bagus/Sudah Cantik
15. Maleh = Masih
16. Kelab Sinten ? = Kata Siapa ?
17. Mentari Sampun Mencereng = Matahari Sudah terbit
18. Didinyo = Katanya
19. Pangkeng = Kamar
20. Kengken/Kongkon = Suruh
21. Kulo = Saya
22. Enggeh = Iya
23. Cindo nian = Cantik sekali
24. Niki = ini
25.Rompok = rumah
Nah..kalau bahasa Palembang sehari-hari yang biasa Anda temui dalam percakapan masyarakatPalembang :Aku buat perbandingan dengan kata-kata sebelumnya sbb:
1. Bener Bebaso Plembang = Benar Berbahasa Palembang
2. Boleh dak aku betanyo ? = Boleh Tidak Saya Bertanya ?
3. Boleh bae = Boleh Saja
4. Kau nak kemano ? = Kamu Mau Kemana ?
5. La makan = sudah Makan
6. Ado Apo ? = Ada Apa ?
7. Jingok / Seliklah = Lihat/Lihatlah
8. Dak Katik = Tidak Ada
9. Untuk = Untuk
10. Begawe = Bekerja
11. Idak Begawe = Tidak Bekerja
12. La Lamo = Sudah Lama
13. Baek = Baik
14. La baek = Sudah Bagus/Sudah Cantik
15. Mase = Masih
16. Kato Siapo ? = Kata Siapa ?
17. Matohari la Muncul = Matahari Sudah terbit
18. Katonyo = Katanya
19. Kamar = Kamar
20. Kongkon = Suruh
21. Aku = Saya
22. Iyo = Iya
23. Cantik Nian =cantik sekali
Perhatikan contoh percakapan sehari-hari menggunakan bahasa melayu Palembang (Baso Plembang) :
+ Payah Nian mak ini ari, segalo kebutuhan la mahal galo… (Susah sekali sekarang ini, segala kebutuhan sudah mahal semua).
– Sabar Bikcek, siapo tahu kagek ado bae yang ngenjuk duit ( Sabar mba’, siapa tahu nanti ada saja yang ngasih uang)
+ Idak kelokaknyo, besak kelakar kau ini ( Tidak mungkinlah, asal ngomong kamu ini)
– Yo..sudahlah kalu mak itu, aku nak ke pucuk dulu ye ( Ya…Sudahlah kalau begitu, saya mau ke atas dulu ya..)
+ Lajulah….lemak pulok duduk aku ni, dari tadi nak beringgut dikit bae saro nian ( Silahkan…enak juga posisi duduk aku ini, dari tadi mau bergerak saja susah sekali)
– Gek kito sambung lagi… (nanti kita sambung lagi)
He he…itu sekilas contoh percakapan dalam bahasa Palembang sehari-hari (Baso Plembang), gampang bukan…..nah kalau mau cepat pintar Baso Plembang, dateng ke Palembang banyak-banyak makan pempek, ngirup cuko tiap pagi dijamin cepet belajarnya.
Sekarang ini sudah tidak banyak lagi wong Palembang yang pandai bebaso (Bahasa Palembang yang halusnya), karena itu sudah jarang terdengar. Anak-anak muda boleh dikatakan banyak yang tidak dapat lagi bebaso, begitu juga orang-orang dewasa. Sehingga seolah-olah sekarang ini bebaso itu hampir hilang.Oleh sebab itu bebaso ini harus dibiasakan dalam pergaulan sehari-hari kepada siapapun sebab didalamnya terdapat norma, adab dan sopan santun, sehingga bila dibiasakan akan menjadi lebih baik karena terhindar dari kemungkinan salah paham, tersinggung, cekcok, dan sebagainya. Bebaso juga enak didengar lho, karena penyampaiannya secara sopan dan halus, nada suaranya tidak tinggi sebagaimana bahasa Palembang pasaran (sehari-hari), lambat, serta dengan sikap merendah.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s